Toleransi dan Etika Pergaulan


ILMU HADITS

GORESAN KATA PENULIS

Segala puji dan puncak kekaguman serta keagungan hanya semata tertuju kepada Allah SWT. Dia-lah yang telah menganugerahkan Al Hadits sebagai Hudan Linnas, rahmatan lil alamin. Dia-lah yang Maha Mengetahui makna & maksud kandungannya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Muhammad SAW, para sahabat serta para tabi’in. Dia-lah Rasulullah SAW, penyampai, pengamal tentang Al Hadits.
Dengan pertolongan dan hidayah-Nya lah, kami dapat menyusun karya tulis ini dengan tema tentang Toleransi dan Etika Pergaulan yang tertera di dalam hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Dalam bab ini disajikan hadits-hadits yang membahas tentang toleransi dan etika pergaulan, dimana hadits-haditsnya dikumpulkan didepan beserta sanadnya sehingga bisa membandingkan sanad yang satu dengan yang lain, kemudian ada terjemah dibawahnya yang diurutkan sesuai nomor haditsnya, baru ada penjelasan hadits secara keseluruhan, dan setelah kandungan hadits terdapat kesimpulan.
Dengan demikian, tentu saja karya tulis ini belum sepenuhnya sempurna, akan tetapi kami berusaha memperbaiki kekurangan tersebut. Kami berharap agar para siswa-siswi khususnya, umumnya dari para pembaca dapat Memberikan kritikan dan masukan yang berharga serta saran-sarannya untuk kesempurnaan tulisan ini. Semoga tulisan ini tercatat sebagai amal shaleh dan menjadi motivator berharga bagi Kami untuk menyusun karya tulisan yang lebih baik di kemudian hari.

 
Daftar Isi

Kata Pengantar..............                                                            i
Daftar Isi............                                                                      iv
BAB 1. Pendahuluan.
1.1.          Latar Belakang............                                           1
1.2.          Rumusan Masalah.........                                         2
1.3.          Tujuan Penelitian.........                                           3
1.4.          Manfa’at Penelitian.............                                   3
1.5.          Definisi Opensional............                                    3
BAB 2. Pembahasan.
2.1.          Hadits 1.
2.1.1.   Redaksi Hadits............                                 4
2.1.2.   Terjemah Hadits.............                              4
2.1.3.   Kandungan Hadits.............                           4
2.2.          Hadits 2.
2.2.1.   Redaksi Hadits............                                 5
2.2.2.   Terjemah Hadits.............                              5
2.2.3.   Kandungan Hadits.............                           5
2.3.          Hadits 3.
2.3.1.   Redaksi Hadits............                                 6
2.3.2.   Terjemah Hadits.............                              6
2.3.3.   Kandungan Hadits.............                           6
2.4.          Hadits 4.
2.4.1.   Redaksi Hadits............                                 6
2.4.2.   Terjemah Hadits.............                              6
2.4.3.   Kandungan Hadits.............                           7
2.5.          Hadits 5.
2.5.1.   Redaksi Hadits............                                 7
2.5.2.   Terjemah Hadits.............                              7
2.5.3.   Kandungan Hadits.............                           7
2.6.          Hadits 6.
2.6.1.   Redaksi Hadits............                                 8
2.6.2.   Terjemah Hadits.............                              8
2.7.          Hadits 7.
2.7.1.   Redaksi Hadits............                                 8
2.7.2.   Terjemah Hadits.............                              8
2.8.          Hadits 8.
2.8.1.   Redaksi Hadits............                                 9
2.8.2.   Terjemah Hadits.............                              9
2.8.3.   Kandungan Hadits.............                           9
2.9.          Contoh Perilaku yang di Teladankan Rosul......       9
2.10.      Perilaku Orang yang Mengamalkan Hadits.... 14
BAB 3. Kesimpulan.
          3.1.    Kesimpulan Hadits...............                                  15
Saran................                                                                       16
Daftar Pustaka.................                                                      17

 
BAB 1
Pendahuluan
1.1       Latar Belakang

Budi Pekerti berarti sikap dan prilaku yang baik. Sifat-sifat yang baik akan mendatangkan kebaikan dan sebaliknya hal yang buruk akan menghasilkan keburukan pula. Oleh karena itu kita perlu menjunjung tinggi nilai budi pekerti yang luhur. Ajaran budi pekerti menuntut kita agar selalu berbuat kebaikan, kebenaran, serta memupuk keharmonisan hubungan manusia dengan tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan, yang sering disebut dengan konsep tri hita karana. Salah satu bagian dari konsep tri hita karana adalah hubungan manusia dengan manusia. Hal ini sangat perlu dilakukan oleh umat manusia, karena manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan adanya hubungan dengan manusia lainnya, hal ini dilakukan bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka dari itu sangat perlu usaha manusia untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antar umat manusia. Salah satu caranya yaitu mengembangkan sikap Toleransi, Etika pergaulan.
Sepanjang sejarah, pluralisme dianggapnya  sebuah pemahaman yang penuh misteri. Sebab tidak dapat dipungkiri, beragam kalangan dan komunitas untuk mengargumentasikan pluralisme yang sebenarnya dengan berbagai metode-metode tertentu, sehingga sebuah subtansi pluralisme masih belum dapat terbongkar atau terkuak secara sempurna. Hal itu, dapat digambarkan di negara kita tercinta ini, yang diargumentasikan MUI (Majelis Ulama’ Indonesia) terhadap pluralisme, mereka memahami istilah pluralisme sebagai pemahaman yang harus dimusnahkan dari muka bumi ini, dengan dalih, paham sebagai penyamaan agama.
Kita sering terperangkap dengan jebakan “toleransi antar umat beragama”, yang diartikan dengan mencampuradukkan ritual keagamaan. Bila kaum Nasrani natalan, kitapun dianjurkan mengikutinya. Padahal sikap ini merupakan pengkhianatan terhadap keimanan dan ritual kita.
Makna toleransi yang sebenarnya bukanlah mencampur adukkan keimanan dan ritual Islam dengan agama non Islam, tapi menghargai eksistensi agama orang lain. Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap
dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya. Kata toleransi sebenarnya bukanlah bahasa “asli” Indonesia, tetapi serapan dari bahasa Inggris “tolerance”, yang definisinya juga tidak jauh berbeda dengan kata toleransi atau toleran. Menurut Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English, toleransi adalah quality of tolerating opinions, beliefs, customs, behaviors, etc, different from one’s own. Adapun dalam bahasa Arab, istilah yang lazim dipergunakan sebagai padanan dari kata toleransi adalah سماحة atau تسامح. Kata ini pada dasarnya berarti al-jûd (kemuliaan). Atau sa’at al-shadr (lapang dada) dan tasâhul (ramah, suka memaafkan). Makna ini selanjutnya berkembang menjadi sikap lapang dada atau terbuka (welcome) dalam menghadapi perbedaan yang bersumber dari kepribadian yang mulia.
Etika adalah dalam bahasa Yunani “Ethos”, berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal- hal tindakan yang buruk.
Kita tidak dilarang melakukan kerjasama dengan non muslim dalam hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal dunia, misalnya hubungan bisnis ataupun studi. Bahkan kita disuruh untuk berbuat adil kepada non muslim selama orang non muslim tersebut tidak memerangi islam.
Jadi, saat berinteraksi dengan non muslim, prinsip-prinsip toleransi, keadilan, dan kebenaran harus kita tegakkan. Namun untuk urusan yang berkaitan dengan kayakinan dan peribadatan, kita mengambil garis yang jelas dan tegas.
1.2       Rumusan Masalah

1.         Bagaimana memahami hadist-hadits tentang toleransi dan etika pergaulan?
2.         Bagaimana memahami terjemah hadist-hadits tentang toleransi dan etika pergaulan?
3.         Bagaimana memahami isi kandungan hadist-hadits tentang toleransi dan etika pergaulan?
4.         Bagaimana perilaku orang yang menerapkan isi kandungan hadist-hadits tentang toleransi dan etika pergaulan?

1.3       Tujuan Penelitian

1.        Untuk mengetahui Telaa’ah materi Ilmu Hadist Madrasah Aliyah dari kelas tiga semester 1.
2.        Memberikan penjelasan hadits-hadits tentang toleransi dan etika pergaulan.
3.        Untuk mengetahui bentuk perilaku orang yang menerapkan isi kandungan hadist-hadits tentang toleransi dan etika pergaulan.

1.4       Manfa’at Penelitian

1.        Dapat memberikan manfaat dunia dan akhirat.
2.        Dapat mengetahui beberapa hadits yang menjelaskan tentang toleransi dan etika pergaulan.
3.        Dapat mengetahui isi kandungan hadits-hadits tentang toleransi dan etika pergaulan.
4.        Bidang pendidikan: Dapat membantu guru bidang study dan para siswa untuk lebih paham mengenai toleransi dan etika pergaulan.
5.        Pembaca: Dapat menambah pengetahuan pembaca tentang toleransi dan etika pergaulan.
6.        Penulis: Dapat membantu penulis untuk lebih banyak berkreasi melalui penulisan makalah atau karya ilmiah untuk masa yang akan datang.

1.5       Definisi Operasional

*        Toleran: Bersifat atau bersikap menanggung ( menghargai, membiarkan, membolehkan ) pendirian ( pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan lain-lain) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.
*        Toleransi:
(1)   Sikap atau sikap toleran: dua kelompok yang berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dengan penuh.
(2)   Batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan.
(3)   Penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja.
*        Etika: Ilmu tentang budi pekerti; kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
*       Pergaulan: perihal bergaul; kehidupan bermasyarakat.


BAB 2
Pembahasan

2.1       Hadits 1.

A.      Redaksi Hadits
         عَن اَبِي هُرَيرَة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم خَمْسٌ مِنْ حَقِ اْلمُسْلِم عَلى اْلمُسْلِمْ رَدُ التَحِيَةِ وَاِجَابَةُ الدَعْوَةِ وَشُهُودُ الجَنَازَةِ وَعِيَادَةِ المَرِيضِ وَتَشْمِيَتُ الغَاظِسِ اِدَا حَمِدَاللهُ .رواه ابن ماجه
B.       Terjemah Hadits

“Dari abu hurairah ra. Berkata Rasululloh SAW bersabda: ada lima kewajiban orang muslim kepada orang muslim lainnya, yaitu membalas salam, memenuhi undangan, melayat jenazah, menengok orang sakit, dan mendoakan orang yang bersin dan membaca (hamdalah).” HR. Ibnu Majah.

C.      Isi Kandungan
1)             Kewajiban membalas salam
Apabila ada orang islam yang memberi salam atau mengucapkan salam, yaitu “assalamu’alaikum” maka orang islam lainnya berkewajiban membalas atau menjawab salam itu. Memberi salam adalah sunah.
2)      Kewajiban memenuhi Undangan
Orang islam apabila diundang oleh orang islam lainnya, wajib memenuhi atau menghadirinya, terutama adalah undangan pernikahan atau walimatul ursy.
3)      Kewajiban Melayat orang islam yang meninggal
Apabila ada orang islam yang meninggal dunia, maka orang islam lainnya berkewajiban melayatnya. Hukumnya adalah wajib kifayah.

4)      Kewajiban mendoakan orang islam yang bengkis
Apabila ada orang islam bengkis lalu ia mengucapkan “alhamdulilah” maka orang islam yang mendengarkannya berkewajiban mendoakannya dengan mengucapkan doa” Yarhamukallah”.

2.2       Hadits 2.

A.      Redaksi Hadits
مَثَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِهِمْ وَتَرَاحِمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ اْلجَسَدِ اِدَااسْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرِ اْلجَسَدِ بِالسَهَرِ وَاْلحُمَى رواه البخارى والمسلم .
B.       Terjemah Hadits
“Perumpamaan sesama orang-orang mukmin dalam mencinta, menyayangi, dan merasakan lemah lembut seperti satu tubuh manusia, Jika diantara satu anggotanya merasa sakit maka seluruh tubuh akan merasakan gelisah dan sakit panas.(HR.Bukhori dan Muslim).”
C.      Isi Kandungan
Dalam hadis ini Rasulallah memberi pelajaran bagaimana hubungan sosial orang-orang islam dengan orang islam lainnya. Cinta kasih sayang dan kemesraan hubungan orang-orang muslim dengan muslim lainnya itu digambarkan oleh Rasulallah SAW ibarat satu tubuh. Dalam hadits ini juga menjelaskan tentang pentingnya solideritas dalam kehidupan antara umat islam.
Kita tahu dan sadar bahwa manusia tidak bisa hidup kecuali dalam kebersamaan. Kebersamaan baru dapat diwujudkan manakala solideritas tercermin dalam kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu anjuran hadits tersebut kepada umat islam untuk mewujudkan solideritas dalam kehidupan antara mereka merupakan ajakan yang positif dan itulah etika pergaulan sesama umat islam.



2.3       Hadits 3.

A.      Redaksi Hadits

عن أبي أمامة ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : " من أحب لله وأبغض لله وأعطى لله ومنع لله فقد استكمل الإيمان(رواه أبو داود) .
B.       Terjemah Hadits

Dari Abi Umamah dari Nabi Muhammad ز : Beliau ز pernah bersabda : “Siapa saja yang mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, memberi karena Allah dan melarang karena Allah, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Daud, dishohihkan oleh Al Abani)
C.      Isi Kandungan

Dan siapa saja yang mencintai tidak karena Allah dan membenci tidak karena Allah, bahkan dia membenci Allah, Rosul dan penganut agama-Nya, maka ia telah Kafir. Atau membenci Allah saja maka ia sudah Kafir. Atau membenci Rosul-Nya saja maka ia juga Kafir, atau membenci penganut agama-Nya saja, maka ia juga telah Kafir.

2.4       Hadits 4.

A.      Redaksi Hadits

حدثن يزيد قال أخبرنا محمد بن إسحاق عن داود بن الحصين عن عكرمه عن ابن عباس قال : قيل لرسول الله صلي الله عليه وسلم اي الأديان أحب إلي الله قال الحنيفيه السمحق. رواه أحمد

B.       Terjemah Hadits

“Dari Ibnu Abbas R.A., Rasulullah ditanya: Agama apa yang paling dicintai oleh Allah?. Rosul menjawab: Agama yang lurus dan toleran. (H.R Ahmad).”




C.      Isi Kandungan

Agama yang lurus berarti agama yang mengajarkan kebaikan-kebaikan yang sesuai dengan fitrah manusia, ketika menurut hati nurani manusia adalah benar, maka menurut islam adalah benar, dan begitu sebaliknya. Ini menunjukkan bahwa sejak awal perkembangan islam adalah agama yang paling toleran diantara agama-agama yang lain. Yaitu agama yang tidak memaksa kepada orang lain, bahkan pada masa Nabi juga menjalin kerjasama kedamaian dengan penduduk bani Quraidzah yang beragama non muslim.

2.5       Hadits 5.

A.      Redaksi Hadits

عن أبي موسي الأشعري رضي الله عنه عن النبي صلي الله عليه وسلم قال أطعموا الجائع وعودوا المريض وفكوا العاني. رواه البخاري واحمد

B.       Terjemah Hadits

“Dari Abu Musa Al-Asy’ari R.A., bahwa Rasulullah bersabda:  “ Berilah makan pada orang yang lapar, jenguklah orang yang sakit, dan bebaskan tawanan”.(H.R. Bukhari dan Ahmad).”

C.      Isi Kandungan

Toleransi terhadap orang yang lapar, orang sakit, dan bahkan tawanan perang sekalipun. Ketika mereka memiliki hak hidup, maka islam sangat memperhatikan hak hidup mereka seperti memerintahkan untuk menjenguk orang sakit dengan memberi suport pada yang sakit sehingga memiliki semangat hidup lagi. Begitu juga dengan orang lapar dan tawanan perang yang sudah tidak membahayakan lagi, supaya untuk dibebaskan.


2.6       Hadits 6.

A.      Redaksi Hadits

عن ابن عباس يرفعه إلي النبي صلي الله عليه وسلم قال ليس منا من لم يوقر الكبير ويرحم الصغير ويأمر بالمعروف وينه عن المنكر. رواه أحمد

B.       Terjemah Hadits

“Dari   Ibnu Abbas  R.A.,  Rasulullah SAW   bersabda:  “Tidak termasuk golonganku orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua dan tidak menghargai orang yang muda, serta tidak memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar.(H.R. Ahmad).”

2.7       Hadits 7.

A.      Redaksi Hadits

عن أنس بن مالك قال كان النبي صلي الله عليه وسلم إذا لقي الرجل فكلمه لم يصرف وجهه عنه حتي يكون هو الذي ينصرف وإذا صافحه لم ينزع يده من يده حتي يكون هو الذي ينزعها ولم يرمتقدما بركبتيه جليسا له قط. رواه ابن ماجة

B.       Terjemah Hadits

“Dari   Anas  Bin  Malik  R.A., berkata:  “Rasulullah jika bertemu dan berbicara dengan orang tidak memalingkan wajah dari orang tersebut, hingga orang itu yang memalingkan wajahnya,  dan ketika berjabat tangan tidak melepaskan tangannya sehingga orang itu yang melepaskannya, dan sama sekali tidak pernah mendahului duduk”.(HR. Ibnu Majah)”

2.8       Hadits 8.

A.      Redaksi Hadits

عن أبي هريرة عن رسول الله صلي الله عليه وسلم قال من كان يؤمن بالله واليوم الأخير فليقل خيرا أو ليصمت ومن كان يأمن بالله واليوم الأخير فليكرم جاره ومن كان يأمن بالله واليوم الأخير فليكرم ضيفه. رواه مسلم

B.       Terjemah Hadits

“Dari   Abu  Hurairah   R.A.,  berkata:  Rasulullah  SAW   bersabda:   “barang siapa beriman kepada Allah  dan  hari akhir maka hendaklah:  berkata baik  atau  diam, menghormati tetangga,  dan  menghormati tamu”.(H.R. Mulim)”

C.      Isi Kandungan

Orang yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua, yakni harus santun, mendahulukan yang tua, menyapa lebih dulu, mengucapkan salam lebih dulu, tidak menarik tangan lebih dulu ketika berjabat tangan, tidak mendahului duduk, tidak membentak ketika berbicara, tidak memalingkan wajah ketika berbicara.
Demikian juga orang yang lebih tua harus menghargai yang lebih muda, tidak menyepelekan, menghargai ide-idenya, kreatifitasnya, dan memberikan hak-haknya dalam berkarir, berekspresi, tidak berbicara dengan kata-kata yang menggurui, dan lain sebagainya.

2.9       Contoh Perilaku yang di Teladankan Rosul.

Sebagai seorang pemuda, pergaulan adalah sesuatu yang sangat melekat dalam diri kita, jangankan seorang remaja atau pemuda, kadang orang tuapun bisa salah dalam bergaul, nah sebelum kita terjerumus lebih dalam, perlunya kita tau rambu yang benar, seperti yang diajarkan rasulullah SAW, dibawah ini kumpulan hadis tentang pergaulan, antara lain:
1.        Apabila seorang datang langsung berbicara sebelum memberi salam maka janganlah dijawab. (HR. Ad-Dainuri dan Tirmidzi)
2.        Lakukanlah ziarah dengan jarang-jarang agar lebih menambah kemesraan. (HR. Ibnu Hibban)
3.        Laki-laki memberi salam kepada wantia dan wanita jangan memberi salam kepada laki-laki. (HR. Ad-Dainuri)
4.        Apabila kamu saling berjumpa maka saling mengucap salam dan bersalam-salaman, dan bila berpisah maka berpisahlah dengan ucapan istighfar. (HR. Ath-Thahawi)
5.        Sahabat Anas Ra berkata, "Kami disuruh oleh Rasulullah Saw agar jawaban kami tidak lebih daripada "wa'alaikum". (HR. Ad-Dainuri).
Penjelasan:
Yakni ketika orang non muslim (Yahudi, Nasrani, dan lain-lain) memberi salam kepada seorang muslim maka jawabannya tidak boleh lebih dari: "Wa'alaikum," artinya: "Dan juga bagimu". Namun jika yang mengucapkan salam tersebut orang Islam, maka kita harus membalasnya dengan ucapan yang lebih baik, atau minimal sama. Firman Allah, "Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu." (Surat 4. AN NISAA' - Ayat 86)
6.        Apabila dua orang muslim saling berjumpa lalu berjabatan tangan dan mengucap "Alhamdulillah" dan beristighfar maka Allah 'Azza Wajalla mengampuni mereka. (HR. Abu Dawud)
7.        Senyummu ke wajah saudaramu adalah sodaqoh. (Mashabih Assunnah)
8.        Apabila berkumpul tiga orang janganlah yang dua orang berbisik-bisik (bicara rahasia) dan meninggalkan orang yang ketiga (karena hal tersebut akan menimbulkan kesedihan dan perasaan tidak enak baginya). (HR. Bukhari)
9.        Apabila seorang bertamu lalu minta ijin (mengetuk pintu atau memanggil-manggil) sampai tiga kali dan tidak ditemui (tidak dibukakan pintu) maka hendaklah ia pulang. (HR. Bukhari)
10.    Seorang tamu yang masuk ke rumah suatu kaum hendaklah duduk di tempat yang ditunjuk kaum itu sebab mereka lebih mengenal tempat-tempat aurat rumah mereka. (HR. Ath-Thabrani)
11.    Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang sholeh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk. (HR. Al Hakim)
12.    Seseorang adalah sejalan dan sealiran dengan kawan akrabnya, maka hendaklah kamu berhati-hati dalam memilih kawan pendamping. (HR. Ahmad)
13.     Sesungguhnya Allah Ta'ala menyukai kelestarian atas keakraban kawan lama, maka peliharalah kelangsungannya. (HR. Ad-Dailami)
14.    Seorang mukmin yang bergaul dan sabar terhadap gangguan orang, lebih besar pahalanya dari yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
15.    Amal perbuatan yang paling disukai Allah sesudah yang fardhu (wajib) ialah memasukkan kesenangan ke dalam hati seorang muslim. (HR. Ath-Thabrani)
16.    Barangsiapa mengintip-intip rumah suatu kaum tanpa ijin mereka maka sah bagi mereka untuk mencolok matanya. (HR. Muslim)
17.    Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya dia segera memperbaikinya. (HR. Bukhari)
18.    Tiga perbuatan yang termasuk sangat baik, yaitu berzikir kepada Allah dalam segala situasi dan kondisi, saling menyadarkan (menasihati) satu sama lain, dan menyantuni saudara-saudaranya (yang memerlukan). (HR. Ad-Dailami)
19.    Jibril Alaihissalam yang aku cintai menyuruhku agar selalu bersikap lunak (toleran dan mengalah) terhadap orang lain. (HR. Ar-Rabii')
20.    Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak mengecewakannya (membiarkannya menderita) dan tidak merusaknya (kehormatan dan nama baiknya). (HR. Muslim)
21.    Rasulullah Saw melarang mendatangi undangan orang-orang fasik. (HR. Ath-Thabrani)
22.    Janganlah kamu duduk-duduk di tepian jalan. Para sahabat berkata, "Ya Rasulullah, kami memerlukan duduk-duduk untuk berbincang-bincang." Rasulullah kemudian berkata, "Kalau memang harus duduk-duduk maka berilah jalanan haknya." Mereka bertanya, "Apa haknya jalanan itu, ya Rasulullah?" Nabi Saw menjawab, "Memalingkan pandangan (bila wanita lewat), menghindari gangguan, menjawab ucapan salam (dari orang yang lewat), dan beramar ma'ruf nahi mungkar." (Mutafaq'alaih)
23.    Termasuk sunnah bila kamu menghantar pulang tamu sampai ke pintu rumahmu. (HR. Al-Baihaqi)
24.    Rasulullah Saw menerima pemberian hadiah dan mendoakan ganjaran atas pemberian hadiah tersebut. (HR. Bukhari)
25.    Jangan menolak hadiah dan jangan memukul kaum muslimin. (HR. Ahmad)
26.    Hendaknya kamu saling memberi hadiah. Sesungguhnya pemberian hadiah itu dapat melenyapkan kedengkian. (HR. Tirmidzi dan dan Ahmad)
27.    Seorang pemuda yang menghormati orang tua karena memandang usianya yang lanjut maka Allah mentakdirkan baginya pada usia lanjut orang akan menghormatinya. (HR. Tirmidzi)
28.    Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah menghormati tamunya. Kewajiban menjamu tamu hanya satu hari satu malam. Masa bertamu adalah tiga hari dan sesudah itu termasuk sedekah. Tidak halal bagi si tamu tinggal lebih lama sehingga menyulitkan tuan rumah. (HR. Al-Baihaqi)
29.    Barangsiapa menerima kebaikan (pemberian) dari kawannya (saudaranya) tanpa diminta hendaklah diterima dan jangan dikembalikan. Sesungguhnya itu adalah rezeki yang disalurkan Allah untuknya. (HR. Al Hakim)
30.    Barangsiapa membela (nama baik dan kehormatan) saudaranya tanpa kehadirannya maka Allah akan membelanya di dunia dan di akhirat. (HR. Al-Baihaqi)
31.    Apabila kawan muslim seseorang digunjing dan dia tidak menyanggah (membelanya) padahal sebenarnya dia mampu membelanya maka Allah akan merendahkannya di dunia dan di akhirat. (HR. Al Baghowi dan Ibnu Babawih)
32.    Jiwa-jiwa manusia ibarat pasukan. Bila saling mengenal menjadi rukun dan bila tidak saling mengenal timbul perselisihan. (HR. Muslim)
33.    Tiada beriman seorang dari kamu sehingga dia mencintai segala sesuatu bagi saudaranya sebagaimana yang dia cintai bagi dirinya. (HR. Bukhari)
34.    Hubungilah orang yang memutus hubungannya dengan kamu dan berilah (sesuatu) kepada orang yang enggan memberimu. Hindarkan dirimu dari orang yang menzalimi kamu (Artinya, jangan menghiraukan orang yang menzalimi kamu). (HR. Ahmad)
35.    Belalah (tolonglah) kawanmu baik dia zalim maupun dizalimi. Apabila dia zalim, cegahlah dia dari perbuatannya dan bila dia dizalimi upayakanlah agar dia dimenangkan (dibela). (HR. Bukhari)
36.    Barangsiapa tidak memperhatikan (mempedulikan) urusan kaum muslimin maka dia bukan termasuk dari mereka. (HR. Abu Dawud)
37.    Jangan menunjukkan kegembiraan atas penderitaan saudaramu, niscaya Allah akan menyelamatkannya dan akan menimpakan (musibah) kepadamu. (HR. Aththusi dan Tirmidzi)
38.    Apabila kamu memukul, hindarilah wajah. (HR. Mashabih Assunnah)
39.    Wahai segenap manusia, sesungguhnya Robbmu satu dan bapakmu satu. Tidak ada kelebihan bagi seorang Arab atas orang Ajam (bukan Arab) dan bagi seorang yang bukan Arab atas orang Arab dan yang (berkulit) merah atas yang hitam dan yang hitam atas yang merah, kecuali dengan ketakwaannya. Apakah aku sudah menyampaikan hal ini? (HR. Ahmad)
40.    Tidak boleh ada gangguan (akibat yang merugikan dan menyedihkan) dan tidak boleh ada paksaan. (HR. Malik)
41.    Cukup jahat orang yang menghina saudaranya. (HR. Muslim)
42.    Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi (memutuskan hubungan) dengan saudaranya melebihi tiga malam. Hendaklah mereka bertemu untuk berdialog mengemukakan isi hati dan yang terbaik ialah yang pertama memberi salam (menyapa). (HR. Bukhari)
43.    Barangsiapa meniru-niru tingkah laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
44.    Tidak akan masuk surga orang yang suka mencuri berita (suka mendengar-dengar berita rahasia orang lain). (HR. Bukhari)
45.    Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling cinta kasih dan belas kasih seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing) maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam. (HR. Muslim)
46.    Kawan pendamping yang sholeh ibarat penjual minyak wangi. Bila dia tidak memberimu minyak wangi, kamu akan mencium keharumannya. Sedangkan kawan pendamping yang buruk ibarat tukang pandai besi. Bila kamu tidak terjilat apinya, kamu akan terkena asapnya. (HR. Bukhari)
2.10  Perilaku Orang yang Mengamalkan Hadits.

Orang yang telah mempelajari hadits-hadits tentang toleransi dan etika pergaulan, ia akan berperilaku sebagai berikut:
1.        Bersikap memahami hak dan kewajibannya selaku muslim, dan selalu berusaha menjaga hak-hak orang lain agar tidak mengganggu keharmonisan dan kerukunan antar sesama muslim dan sesama umat manusia.
2.        Mempunyai sikap peduli terhadap sesama, baik sesama muslim maupun terhadap non-muslim.
3.        Berakhlak al-karimah, karena dalam hadits-hadits tentang etika pergaulan di tuntut untuk menghormati dan menghargai orang lain, dimana menghormati dan menghargai orang lain tidak akan bisa terwujud bila ia berakhlak madhmumah.
4.        Lebih perhatian kepada hak orang lain dari pada haknya sendiri, sehingga ia menjaga diri agar tidak sombong, congkak, iri, dendam, dengki, dan lain-lain.
5.        Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, karena dengan memaksakan berarti dia tidak menghormati hak orang lain.
6.        Tidak terlalu fanatik terhadap golongannya dan tidak mudah menyalahkan orang lain, karena ia dituntut untuk toleran kepada orang lain.
7.        Menjalankan ajaran islam dengan bangga dan sportif karena merasa islamlah yang paling benar, dan paling lengkap ajaran-ajarannya dibanding ajaran-ajaran lainnya.

BAB 3
Kesimpulan

3.1   Kesimpulan Hadits
Di dalam Islam, juga dikenal istilah toleransi. Toleransi (tasamuh) di dalam Islam hanya berkenaan dengan masalah–masalah duniawiyyah atau masalah kemasyarakatan di dunia saja. Sedangkan dalam masalah i’tiqad atau aqidah Islamiyyah juga dalam masalah syari’ah tidak diketemukan toleransi di dalamnya. Semua sudah terbingkai rapi dan teratur di dalam satu aturan atau perundang–undangan yang berasal langsung dari Allah (Tuhan Segala makhluk) dengan sistem aturan dari ‘langit’.
Di dalam bertoleransi, kita dilarang menjadi penolong dalam agama–agama mereka. Seperti, mereka menginginkan kita ikut serta dalam perayaan hari raya mereka. Mereka juga menginginkan kita mensahkan apa–apa yang mereka lakukan, seperti minum khomr, makan daging–daging yang haram (anjing, babi, dsb), membuat rumah ibadah mereka, berzina, pacaran, mengghibah, dan lainnya. Yang pada akhirnya, mereka menyuruh agar kita menghargai pemurtadan yang mereka lakukan.
Kesemuanya itu adalah HARAM dilakukan oleh ummat Islam, bahkan tidak boleh terlintas di dalam hati ummat Islam sedikitpun.
Dari penjelasan tersebut dapat diketahui, bahwa faktor-faktor yang menyebabkan penyimpangan akal seseorang, yaitu:
1.             Mengikuti hawa nafsu, kecenderungan dan keinginan-keinginan.
2.             Cinta atau benci buta dan prasangka tak beralasan.
3.             Takabur (kesombongan).
4.             Taqlid buta terhadap pendapat nenek moyang (para pendahulu), mereka yang memiliki kekuatan, dan pemikiran diri sendiri yang jumud.

Maka dari itu, kita harus mempunyai sikap al-Mu’aadaah (membenci). Membenci siapa yang dimaksud?. Membenci apapun yang bertentangan dengan hukum Qur’an dan Sunnah, membenci siapapun yang membenci Allah dan Rosul-Nya, membenci apa–apa yang selain Allah dan membenci karena Allah.
Islam melarang kita menjadikan orang–orang kafir dan musyrik sebagai pemimpin, karena dikhawatirkan bahkan diyakini bahwa mereka akan memimpin dengan kekafiran, kemaksiyatan dan kebodohannya. Islam juga melarang mengambil mereka sebagai teman dekat (shahabat), dikhawatirkan dia (si kafir) akan menjerumuskan kita ke dalam kekafirannya.
Rasulullah pernah berpesan : “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Di hadist tersebut Nabi memberikan pesan yang tersirat, bahwa kita harus mengambil orang Mukmin saja sebagai teman. Bahkan orang–orang Muslim yang mengambil orang–orang kafir sebagai teman, diancam oleh Allah dengan siksaan yang pedih. Akan tetapi, Islam membolehkan kita berbuat adil terhadap orang kafir, dengan catatan si kafir tersebut tidak memerangi dan membenci kaum muslimin.
 Jika si kafir tidak memerangi dan membenci kaum Muslimin karena agama juga tidak mengusir kita dari negeri kita (tidak menjajah). Maka kita boleh berbuat adil kepada mereka (ya’ni, memberikan hak–haknya). Berbuat adil disini bukan berarti loyal (mencintai serta menjadi penolong) terhadap mereka. Tetap, kita tidak boleh bertoleransi dalam hal aqidah. Tetap kita harus berlepas diri dari kekufuran mereka.

Saran
Allah adalah maha kuasa pencipta yang paling baik. Menciptakan manusia secara pluralistik, beraneka bangsa, suku bangsa, bahasa, asat istiadat budaya, dan warna kulit. Keanekaragaman dan kemajemukan manusia seperti itu adalah bukan untuk berpecah-pecah, saling membanggakan kedudukan yang satu merasa lebih terhormat daripada lainya. Akan tetapi supaya saling mengenal bersilaturahmi, berkomunikasi, saling memberi dan menerima.
Meski berbeda-beda, namun sebagai umat islam kita dipersatukan dengan satu ikatan yaitu ikatan persaudaraan dalam islam. Allah sawt tidak membedakan antar manusia yang satu dengan manusia yanglain, kerena yang membedakan di hadapan Allah SWT hanyalah tingkat ketakwaannya.


Daftar Pustaka



Wahyuninto, Liza & Muslim, Abdul Qadir. 2010. Memburu Akar Pluralisme Agama.Malang. UIN-Maliki Press.


Tim Guru MGPK JaTim. 2008. Bahan Ajar Hadits. Mojokerto. CV. Sinar Mulia Mojosari.



Ghulsyani, Dr. Mahdi.1986. Filsafat-Sains Menurut Al-Qur’an. Bandung: Mizan.

.Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta: Balai pustaka.

Santoso, Ananda. 1995. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia.Surabaya: Kartika.